Kesadaran dan Kekuatan Moral – Ahmad Bagdja

Home Forums Historia PMKRI dan Kelompok Cipayung Kesadaran dan Kekuatan Moral – Ahmad Bagdja

  • This topic is empty.
Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #7916
    editor
    Keymaster

    KESADARAN DAN KEKUATAN MORAL
    Drs. Ahmad Bagdja

    Tuntutan Kelompok Cipayung adalah mewujudkan kemurnian jalannya periode saat ini. Untuk kembali kepada perwujudan kemurnian tersebut, pertama-tama kali harus dilakukan oleh diri sendiri yang bertolak pada kesadaran dan kekuatan moral. Kesadaran dan kekuatan moral adalah berpihak dari norma-norma kesatuan bangsa yang terdiri atas nilai-nilai revolusi dan kemerdekaan. Kemudian kedua, berdasarkan kebersamaan Kelompok Cipayung, gagasan-gagasan maupun tindakan-tindakannya harus melepaskan diri dari ikatan-ikatan dan pola-pola lama sebab ikatan dan pola ini tidak ada kekuatan untuk menghadapi gejolak kehidupan kemasyarakatan. Yang terakhir, hal-hal di atas tadi benar memperjuangkan keinginan dan kebutuhan rakyat yang terbanyak, terutama lapisan bawah yang tertindas oleh kemiskinan dan kebodohan struktural. Kesemua itu berpegang pada asas kebersamaan, tidak mengenal perbedaan antara berbagai macam suku, agama, dan golongan.

    Dalam pergumulan dan perkembangan tuntutan itu, terdapat adanya kendala-kendala di luar Kelompok Cipayung yang cenderung mengarah pada budaya ketakutan yang terlalu berlebih-lebihan. Ketakutan seperti itu, bukan karena berbuat dan bertindak dari salah satu dasar-dasar negara yang melainkan karena ketakutan diri sendiri yang belum mengetahui prinsip-prinsip kesadaran moral. Kendala-kendala tersebut hampir sama dengan periode organisasi mahasiswa sebelum dilahirkan wadah Kelompok Cipayung yakni, rasa ketakutan bagi keberadaan organisasi mahasiswa masing-masing. Selama dua dasawarsa Kelompok Cipayung masih tetap terjaga untuk mengendalikan kendala-kendala itu sebab ada kekuatan dari organisasi diri sendiri.

    Kesepakatan Cipayung pada tahun 1972 merupakan aset pokok-pokok harapan bagi nilai dan kebutuhan bangsa, terutama generasi pembangun untuk mewujudkan Indonesia yang kita cita-citakan. Kesepakatan tersebut sudah dilaksanakan, serta di sisi lain menyadari bahwa ada gejolak-gejolak sosial yang kadang-kadang merugikan kepentingan dan kehidupan bangsa. Kelompok Cipayung pernah mengeluarkan beberapa gagasan sebagai suatu alternatif terhadap sebab-sebab gejolak itu, dan gagasan-gagasan tersebut didasari oleh pemikiran kritis. Pemikiran tersebut bertolak pada sikap idealisme dan menjurus kegiatan-kegiatan yang akan datang terutama mengatasi kemiskinan yang absolut, kebodohan struktural, dan penyelewengan dasar-dasar konstitusi.

    Kegiatan dan pergerakan Kelompok Cipayung sebenarnya adalah kuantitas yang terkecil dari pergerakan mahasiswa. Akan tetapi nilai kegiatan dan pergerakan tersebut telah membuahhasilkan kepada rakyat berupa harapan-harapan yang lebih besar dari kualitas pergerakan mahasiswa. Kegiatan dan pergerakan Kelompok Cipayung didasari oleh tolak-ukur moralitas dan jati diri bangsa, khususnya menghadapi situasi sosial-politik berupa gagasan penilaian terhadap pembaruan kondisi saat ini. Dalam perjalanannya terdapat adanya perubahan-perubahan dari sifat dan pola Kelompok Cipayung yang sesuai dengan kondisi dan iklim sekitarnya. Namun di lain pihak, untuk mencapai tujuan bersama yang disepakatinya, rata-rata tetap teguh berdasarkan tolak-ukur di atas tadi.

    Dalam perkembangan aktivitas Kelompok Cipayung yang berangkat dari bahasan-bahasan di atas, pola dan corak Kelompok Cipayung bagaimanapun juga melepaskan diri dari belenggu budaya yang lampau yakni, norma-norma tradisional dan tertutup.Apabila gagasan-gagasan itu berbeda atau bertentangan dengan konsep-konsep dan tindakan-tindakan kekuasaan yang sedang berlangsung, saya melihat rata-rata diawasi dan dicurigai oleh struktur kekuasaan lama terutama mengenai evaluasi terhadap asas-asas demokrasi, hak-hak asasi manusia, hakiki umum, pemerataan ekonomi, dan sebagainya. Pernyataan-pernyataan itu tidak direkayasa oleh karangan di luar Kelompok Cipayung tetapi berdasarkan hasrat, keinginan, dn kehendak diri sendiri (Kelompok Cipayung) berlandaskan kesadaran moral.

    Untuk mengevaluasi hal-hal di atas bagi pengelolaan negara tentu ada perbedaan-perbedaan interaksi Kelompok Cipayung, namun hampir dalam perbedaan tidak ada ganjalan dari evaluasi. Di sisi lain, kiprah Kelompok Cipayung bukan sebagai kelompok untuk meraih keuntungan pribadi dan kebenaran dari diri sendiri, melainkan melihat dan meraih suatu tujuan dalam kebersamaan. Mungkin disebabkan karena wadah Kelompok Cipayung tidak menjurus pada suatu sistem organisasi yang penuh, yang ada hegemoni dalam struktur kepengurusan melainkan semata-mata sebagai forum yang longgar, dan tetap berlaku asas dan hakikat seluruh organisasi yang tergabung dalam Kelompok Cipayung. Tempat perumusan dan kegiatan tidak terbatas terhadap waktu dan lokasi, namun substansi isi dalam evaluasi itu harus berdasarkan secara berbobot.

    Unsur-unsur Kelompok Cipayung yang terdiri atas oragnisasi-organisasi HMI, GMNI, PMKRI, GMNI, dan PMII hampir tidak ada suatu penyimpangan terhadap tolok-ukur di atas, bahkan semakin tebal terhadap kebersamaan. Gema Kelompok Cipayung di mana-mana, terutama untuk mengungkapkan gagasan-gagasan melalui suatu media massa. Gema itu tertuju pada moralitas kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan rakyat, menganalisa dan mengevaluasi terhadap pengelolaan negara untuk mencapai cita-cita bangsa. Kelompok Cipayung satu-satunya alternatif bagi generasi muda dewasa itu, sebab kegiatan kebersamaan Kelompk Cipayung menjurus kepada kepekaan terhadap kehidupan sosial dan harga diri sebagai bangsa. Model Kelompok Cipayung sebenarnya sebagai wadah miniatur Pancasila karena unsur-unsur tersebut hampir sama dengan unsur-unsur kebangsaan yang berpatok pada asas Bhinneka Tunggal Ika.

    Bagaimana tentang perkembangan Kelompok Cipayung dewasa ini? Saya belum mengetahui hal itu, karena saya tidak terlibat lagi dalam kegiatan Kelompok Cipayung. Namun, secara keseluruhan berdasarkan semangat dan kejiwaan kesepakatan Kelompok Cipayung, hendaknya terus dipelihara. Kelompok Cipayung merupakan titik sentral bagi generasi muda sebagai embrio kebangsaan untuk kegiatan masa kini maupun masa yang akan datang.

    Drs. Ahmad Bagdja- Ketua Umum Pengurus Besar PMII 1977-1981

    Sumber : https://kelompokcipayung.blogspot.com/2010/01/kesadaran-dan-kekuatan-moral-drs-ahmad.html

    Baca juga : Refleksi Mantan Aktifis Kelompok Cipayung

Viewing 1 post (of 1 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.