TENTARA YANG DICITA-CITAKAN

Home Forums Historia TENTARA YANG DICITA-CITAKAN

  • This topic is empty.
Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #8026
    rinividivici
    Member

    TENTARA YANG DICITA-CITAKAN

    Edisi : 07/02
    Tanggal : 1972-04-22
    Halaman : 05
    Rubrik : NAS
    Penulis :
    Sumber :

    SETELAH dibulan Djanuari jang lalu mereka sepakat merumuskan
    “Indonesia Jang Kita Tjita-Tjitakan”, ke-4 organisasi Mahasiswa
    HMI, MNI, PMKRI, GMKI–kembali mengadakan pertemuan di
    Tjipajung. Dengan peserta jang diperluas, Pertemuan Tjipajung
    ke-II ini agaknja bermaksud nentjari bentuk implementasi dari
    apa ang telah disepakati dulu. Paling tidak tulah jang terkesan
    dari tema pandjang: perentjanaan Masjarakat Dan Tanggung Djawab
    Generasi Muda Mentjapai Indoesia Jang Kita Tjita-Tjitakan.
    Mematja daftar nama-nama jang akan mendjadi pembitjara utama
    seperti Djendera Soemitra, Letdjen Sutopo Juwono, Majdjen Hasnan
    Habib, Prof. Widjojo Nitisastro, Sudjatmoko, Alfian dan
    lain-lain – dengan nama-nama pembahas jang umumnja tidak pula
    asing–ada alasan untuk mengharap sebelumnja bahwa pembitjaraan
    akan tidak hanja ikan menjangkut hal-hal umum akan tetapi
    terutama akan bertitik berat pada jara-tjara pelaksanaan
    ide-ide. Tetapi harapan itu telah bujar pada atjara nalam
    pertama, ketika Djenderal Soemitro dan Majdjen Hasnan Habib jang
    diharapkan akan mengemukakan fikiran-fikiran sekitar “Segi
    Keamanan dan pertahanan”, ternjata tidak djuga dapat hadir.
    Sebabnja “karena kesulitan tehnis”, seperti dikatakan Chris
    Siner Key Timu, jang bertindak sebagai moderator malam itu
    Meskipun demikian menurut moderator, panitia telah mendapat
    rekomendasi dari Kepala Staf Kekarjaan Hankam Letdjen Darjatmo
    untuk membitjarakan masalah hankam dalam forum itu.

    ; Mulut & hidung. Maka barangkali itu lah untuk pertama kalinja di
    Indonesia, orang-orang sipil jang terdiri dari tokoh-tokoh
    pemuda dan politik membitjara kan masalah hankam di Indonesia
    dalam suatu forum diskusi. Tentu sadja pembitjaraan sulit
    dihindarkan dari suasana amatirisme dan hanja berkisar pada
    prinsip-prinsip umum. Namun demikian apa jang ditampilkan
    sedikit-banjak memberikan gambaran apa jang dipikirkan oleh
    orang-orang sipil tentang pertahanan dan keamanan Indonesia
    serta kedudukan militer dikemudian hari. Sabam Sirait, salah
    seorang pembahas jang djadi pembitjara – disamping Rachman
    Tolleng dan Gde Djaksa–karena tidak datangnja pembitjara utama,
    malahan mengandurkan agar generasi muda lebih banjak
    membitjarakan soal hankam sekalipun diakuinja bahwa bidang ini
    “sebenarnja lebih banjak soal-soal tehnis”.

    ; Pada umumnja diterima pendapat bahwa muntjulnja kaum militer di
    Indonesia memegang peranan jang menentukan di Indonesia sekarang
    sebagai hal jang tak terelakkan — meskipun ditanjakan djuga
    disana apakah hal itu wadjar atau tidak. Dalam perumpamaan
    Rachman Tolleng: “Karena hidung tak dapat mendjalankan fungsi
    bernafas karena pilek, maka peranannja diganti oleh mulut”.
    Menurut Rachman, masalah hankamnas hendaknja didekati setjara
    struktural dan fungsional agar tidak tergelintjir pada keinginan
    dan definisidefinisi normatif. Sambil membantah bahwa ia
    berbitjara sebagai orang Golkar, Rachman melihat faktor ABRI
    dalam konteks ini sebagai berfungsi intergaratif dalam mentjapai
    tudjuan nasional — suka atau tidak suka. Tapi masalahnja disini
    bukanlah suka atau tidak suka. Masalahnja seperti dikemukakan
    oleh seorang peserta, “apakah tidak berfungsinja hidung itu
    sengadja dibuat atau tidak dan kapan pilek itu sembuh?” Setjara
    lebih kongkrit Binsar Sianipar, dari GMKI merumuskannja dalam
    pertanjaan: “apakah tak ada kelemahan dalam perentjanaan seluruh
    masjarakat kita?” Rachman Tolleng jang merasa ditudju oleh
    pertanjaan itu mendjawab “mungkin sadja”. Tapi ia mengembalikan
    masalah ini pada satu analisa bahwa persoalan hankam hanjalah
    merupakan suatu sub-sistim dari sistim politik dan sistim
    politik itu sendiri merupakan sub-sistim dari sistim sosial,
    sementara sistim sosial ditentukan oleh tudjuan nasional suatu
    bangsa. Bahwa dalam hubungan ini muntjulnja peranan kaum militer
    sebagai tak bisa lain, Rachman menganggapnja sebagai gedjala
    umum sekarang. Bahkan menurut Rachman di Amerika Serikat pun
    kaum militer sekarang berperang sebagai pressure group dalam
    pengambilan keputusan-keputusan dibidang ekskutif. Dan setjara
    bergurau dikatakannja, djangandjangan tahun 1980-an dwi-fungsi
    sudah dipraktekkan pula di Amerika Serikat”.

    ; Spion-spionan. Terhadap masaalah ini, baik Sabam Sirait dari
    Parkindo maupun Gde Djaksa dari PNI mentjoba beralih dari hanja
    mengukur masa depan dengan keadaan sekarang sadja. Sabam tampil
    dengan satu pertanjaan dasar tentara jang bagaimanakah jang kita
    tjita-tjitakan? Dan menurut Sabam tentara jang kita
    tjita-tjitakan adalah “tentara jang sebanjak-banjaknja bernafas
    bersama-sama rakjat melalui satu hidung”. Artinja lebih-kurang:
    fungsi hidung harus dikembalikan pada fungsinja jang normal dan
    jang kita tjita-tjitakan adalah seperti jang dikatakan oleh
    almarhum Panglima Sudirman jang dikutip oleh Sabam sendiri:
    “tentara adalah tentara”. Sebagai demikian maka tentara otomatis
    adalah bagian dari rakjat dan bagian dari bansa. Dan karena itu
    Sabam menjatakan tidak setudju hanja karena pembangunan ekonomi
    sadja maka pembangunan militer dihentikan. “Ini bukan maksudnja
    untuk meningkatkan intensitas dwi-fungsi”, kata Sabam,
    “melainkan untuk menjelematkan negara dan bangsa”.

    ; Pendapat itu agaknja disokong oleh Gde Djaksa. “Kalau
    dimana-mana sekarang kita bertemu badju-hidjau, djanganlah
    dikira setjara fisik personil ABRI sudah berlebih”, katanja. Itu
    hanja karena mereka tidak disiplin”. Berdasarkan
    studi-komparatif dan pertimbangan djumlah penduduk, situasi
    geografis serta geopolitis, Gde berpendapat bahwa personil ABRI
    jang sekarang ini masih belum mentjukupi. Idealnja menurut Gde
    tiap 400 orang ada 1 tentara atau minimum 100 : 1. Gde
    menundjukkan 2 kemungkinan jang bisa ditempuh untuk membangun
    kekuatan militer Indonesia. Djika karena terbatasnja anggaran
    tak mungkin memperbanjak personil militer, maka djalan lain
    adalah dengan mengembangkan industri militer dan
    memodernisasikan peralatan hankam. Jang tidak kalah pentingnja
    dalam pembinaan ketahanan nasional ini adalah partisipasi
    masjarakat dibidang intelidjen. “Tapi koordinator intelidjen
    harus tunggal”, kata Gde. “Djangan semrawut seperti sekarang,
    semua punja kartu intel dan tidak djelas lagi mana jang harus
    dilajani sebab orang hanja main spion-spionan”.

    ; Walhasil dari diskusi itu ditarik satu kesimpulan bahwa masaalah
    hankam bukanlah hanja masaalah ABRI akan tetapi djustru masaalah
    seluruh masjarakat, dimana pemuda merupakan unsur terpenting
    didalamnja. Dan pemuda ini, seperti dikatakan oleh Binsar
    Sianipar kepada TEMPO, djustru “sedang berusaha mendjadi
    kekuatan ketiga dalam merentjanakan masa depan masjarakat
    disamping ABRI dan teknokrat”. Ia nampaknja ingin membantah
    sinjalemen orang achir-achir ini – antaranja Majdjen Ali Murtopo
    ketika berbitjara didepan peserta Mukerda III Gerakan Pemuda
    Marhaen di Malang baru-baru ini — bahwa pemuda sekarang lebih
    banjak hanja tukang diskusi, tukang demonstrasi dan tak ada jang
    mendjadi pemetjah persoalan (problem solver). “Dalam tingkat
    decision worker memang tidak mungkin keluar problem solving”,
    kata Binsar. “Itu hanja mungkin dalam tingkat political decision
    making process”, katanja. Dan Ridwan Saidi dari HMI
    mengingatkan: “Kalau ada pemuda berdemonstrasi itu hanja suatu
    pernjataan, bukan pola perdjuangan”.

    Sumber : DataTempo.co

Viewing 1 post (of 1 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.